Latar Belakang
Jatuhnya konstantinopel pada pasukan islam turki, membuat bangsa-bangsa eropa yang mayoritas beragama nasrani mengalami kesulitan perdagagangan terutama dengan Negara-negara dunia timur seperti India dan China. Hal tersebut membuat Negara-negara eropa tadi mulai memikirkan jalur alternative perdagangan antara asia dan eropa tanpa melalui kota konstantinopel, yang mana ketika telah dikuasai oleh pasukan muslim dari dinasti turki usmani diganti namanya menjadi istambul.
Usah-usaha yang detempuh tersebut salah satunya adalah melalui laut, maka sejak masa itu dimulailah suatu kurun waktu yang dikenal dengan masa penjelajahan samudra. Pada awal kurun itu spanyol dan portugis dapat dikatakan sebagai penguasa samudra dunia, karena usaha-usaha mereka mencapai india dan tanah rempah rempah atau Maluku. Lambat laun tujuan mereka yang semula hanya ingin mencapai tepat-tempat pusat niaga dunia kala itu dan melakukan hubungan dagang, mulai bergeser dengan adanya cita-cita imperialisme kuno yang didasarkan pada tiga prinsip utama yang dikenal dengan sebutan 3 G, yaitu Gold (kekayaan), Glory (kejayaan), dan Gospel (menyebarkan agama).
Usaha portugis dan spanyol tersebut mulai mendapat saingan dari beberapa Negara eropa lainya terutama inggris dan belanda. Merekapun mulai turut serta dalam penjelajahan samudra dan juga dilandasi dengan semangat 3G tersebut. Sebagaimana diketahui bersama bahwa dalam semangat imperealisme kuno tersebut terdapat semboyan Gospel atau penyebaran agama nasrani oleh para pelaut eropa, maka dalam setiap misi mereka menemukan daerah baru atau mengunjungi pusat-pusat niaga di bagian lain bumi, turut pula para pemuka agama nasrani yang bertujuan menjalankan misi gospel tersebut. Bermula dari misi gospel itu mulailah babakan baru dalam dunia pendidikan nusantara yakni mulai dikenalnya system pendidikan agama nasrani yang berada dalam naungan gereja, baik gereja katolik maupun gereja Kristen.
