Latar Belakang
Jatuhnya konstantinopel pada pasukan islam turki, membuat bangsa-bangsa eropa yang mayoritas beragama nasrani mengalami kesulitan perdagagangan terutama dengan Negara-negara dunia timur seperti India dan China. Hal tersebut membuat Negara-negara eropa tadi mulai memikirkan jalur alternative perdagangan antara asia dan eropa tanpa melalui kota konstantinopel, yang mana ketika telah dikuasai oleh pasukan muslim dari dinasti turki usmani diganti namanya menjadi istambul.
Usah-usaha yang detempuh tersebut salah satunya adalah melalui laut, maka sejak masa itu dimulailah suatu kurun waktu yang dikenal dengan masa penjelajahan samudra. Pada awal kurun itu spanyol dan portugis dapat dikatakan sebagai penguasa samudra dunia, karena usaha-usaha mereka mencapai india dan tanah rempah rempah atau Maluku. Lambat laun tujuan mereka yang semula hanya ingin mencapai tepat-tempat pusat niaga dunia kala itu dan melakukan hubungan dagang, mulai bergeser dengan adanya cita-cita imperialisme kuno yang didasarkan pada tiga prinsip utama yang dikenal dengan sebutan 3 G, yaitu Gold (kekayaan), Glory (kejayaan), dan Gospel (menyebarkan agama).
Usaha portugis dan spanyol tersebut mulai mendapat saingan dari beberapa Negara eropa lainya terutama inggris dan belanda. Merekapun mulai turut serta dalam penjelajahan samudra dan juga dilandasi dengan semangat 3G tersebut. Sebagaimana diketahui bersama bahwa dalam semangat imperealisme kuno tersebut terdapat semboyan Gospel atau penyebaran agama nasrani oleh para pelaut eropa, maka dalam setiap misi mereka menemukan daerah baru atau mengunjungi pusat-pusat niaga di bagian lain bumi, turut pula para pemuka agama nasrani yang bertujuan menjalankan misi gospel tersebut. Bermula dari misi gospel itu mulailah babakan baru dalam dunia pendidikan nusantara yakni mulai dikenalnya system pendidikan agama nasrani yang berada dalam naungan gereja, baik gereja katolik maupun gereja Kristen.
Kedatangan Bangsa Eropa ke Nusantara.
Eropa pada tahun 1450 sampai 1650 menemui masa penemuan (Age of Discovery) dan masa perluasan kekuasaan (Age of Expansion). Ketika itu bangsa-bangsa Eropa sudah dapat mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang geografi dan teknologi. Memang mereka tertinggal oleh bangsa Romawi dan bangsa Islam selama berabad-abad lamanya. Namun rupanya, bangsa-bangsa Eropa memiliki keinginan yang kuat untuk mengejar ketertinggalan itu. Mereka berlomba-lomba mengarungi samudra, padahal mereka belum yakin apakah dunia ini bulat seperti bola atau datar seperti meja. Mereka pun ingin berekspansi, membangun wilayah-wilayah pendudukan atau koloni-koloni. Inilah awal Penjelajahan Samudra oleh bangsa Eropa.
Latar Belakang Kedatangan Bangsa Eropa
Kekuatan kolonial utama bangsa Eropa pada saat itu adalah Perancis, Inggris, Belanda, Portugis, dan Spanyol. Bangsa-bangsa ini begitu tertinggal, sehingga baru pada tahun 1350 mereka bisa melayari laut Tengah dan ujung barat di Spanyol dan ujung timur di Turki. Padahal, orang-orang Romawi telah melakukan hal yang sama lebih dari 1000 tahun sebelumnya. Bahkan pada abad ke-15, orang-orang Eropa hanya tahu sedikit tentang permukaan bumi. Peta dunia dibuat pada tahun 1511 oleh Vessente Maggioli, masih berdasarkan pada teori bumi sebagai tanah yang sambung menyambung. Teori yang sudah usang ini diciptakan pada abad ke-2 oleh Ptolomeus, orang Yunani-Mesir. Akibat anggapan tentang bumi yang salah. Maggioli menggambarkan Amerika sebagai kelanjutan dari Asia. Dia tidak tahu bahwa beberapa benua dipisahkan oleh laut.
Untunglah para pelaut eropa tidak menunggu peta yang tepat untuk pergi berlayar. Mereka melakukan pelayaran dengan peta seadanya. Mengapa mereka begitu nekad Berlayar dengan peta yang buruk? Rupaya mereka cukup percaya diri karena menguasai teknologi peayaran dan persenjataan. Selain itu, mereka sangat bernafsu untuk mendapatkan kekayaan, seperti emas dan rempah-rempah yang mahal.
Teknologilah yang memungkinkan bangsa-bangsa Eropa melakukan penjelajahan dunia. Selai kapal laut, Eropa Barat telah menyempurnakan meriam. Senjata ini mengeluarkan dentuman yang menakutkan. Pelurunya bisa merusah benteng kayu bahkan kota. Kisah keberhasilan Sultan Muhammad II menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 adalah bukti kedahsyatan meriam. Sang sultan sangat beruntung, karena para insinyur Eropa mau diupah untuk membuat 56 peluru meriam kecil dan 1 pucuk meriam raksasa yang mampu melontarkan peluru seberat 800 pon (363,2 Kg).
Teknologi meriam sangat membantu para pelaut karena mereka kekurangan prajurit untuk melindungi kapal. Kala itu, Eropa baru saja dilanda wabah kematian yang disebut "Black Death". Selain kekurangan prajurit, mereka juga kekurangan pendayung yang biasanya menggunakan para budak atau orang-orang terpidana.
Keberhasilan menempatkan meriam di kapal akan percuma apabila para pembuat kapal tidak menemukan cara memanfaatkan tenaga angin untuk menggantikan tenaga pendayung. Semula, kendaraan perang di laut hanyalah perahu besar terbuka berawak puluhan pendayung dan tenara. Kapal-kapal berlambung tertutup dan digerakan angin yang ditangkap layar pada tiang, berhasil mengatasi masalah kekurangan pendayung dan keseimbangan akibat tambahan bobot meriam dan hempasan ombak besar. Walau lebih lamban daripada kapal dayung, kapal layar ini memuat lebih banyak barang dan lebih lincah.
Pada abad ke-15, para pelaut Eropa mulai mengenal kompas yang dibawa para pedagang muslim dari Cina. Kompas sangat membantu untuk menentukan arah pelayaran. Orang-orang Islam telah menemukanastrolobe pada abad ke-12, juga berjasa bagi para pelaut Eropa. Alat itu dapat mengukur ketinggian matahari dan benda langit lainnya. Dengan demikian, para pelaut dapat mengetahui letak kapal dari gais khatulistiwa. Peralatan navigasi ini lambat laun membantu menyempurnakan peta.
Jika teknologi membantu pelayaran para penjelajah Eropa, apakah yang mendorong mereka menempuh bahaya mengarungi lautan yang ganas, berkumpul dengan saingan penduduk pribumi yang primitif? Pada dasarnya mereka mencari keuntungan material. Para penjelajah itu terus terang mengakui motif itu.Bartholomeus Diaz berkata motif utamanya adalah untuk menjadi kaya. Pelaut lainnya, Vasco da Gama, motif utamanya adalah untuk menyebarka agama dan mencari rempah-rempah. Para pelaut dan penjelajah itu religius sebagaimana orang zaman pertengahan, nyatanya perilaku mereka tergolong modern dan materialistic.
Beberapa penjelajahan terkenal telah berhasil menemukan pengganti jalur darat yang dikuasai Sultan Turki. Mereka adalah Bartholomeus Diaz, Vasco da Gama, dan Alfonso de Albuquerque dari Portugis. Sedangkan Spanyol Mengutus Christopher Columbus, pelau Genoa (Italia), dan Ferdinand Magellan.
Ada beberapa faktor yang mendorong bangsa Eropa melakukan pelayaran dan penjelajahan samudra. Di bawah ini akan dijelaskan perkembangan ilmu pengetahuan, eknomi, politik, dan idealisme masyarakat Eropa pada abad pertengahan.
1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhir abad pertengahan, menimbulkan perubahan besar dan cepat (revolusi). Hal itu diperlihatkan dengan munculnya penemuan Nicolaus Copernicus dengan teori Heliosentris (helios=matahari, centrum= pusat), artinya tata surya ini berpusat pada matahari. Teori heliosentris ini membantah teori lama yang bersifatgeosentris (geos=bumi, centrum=pusat). Ajaran geosentris ini pada perkembangannya melahirkan suatu pandagan bahwa bumi ini datar seperti meja. Ajaran geosentris didukung dan disahkan oleh gereja sebagai salah satu ajaran resmi para penganut gereja khatolik. Kemudian, teori heliosentris dipertegas dan diperjelas oleh ilmuwan dari Italia, Galileo Galilei. Karya ciptanya berupa teleskop, yang dapat mempelajari gugusan bintang. Akan tetapi, gagasan Galileo dianggap bertentangan dengan ajaran gereja dan dinyatakan sebagai ajaran sesat.
Perkembangan pemikiran baru dari Copernicus dan Galileo di Eropa mengubah pandangan masyarakat Eropa tentang keberadaan bumi. Pemikiran Copernicus dan Galileo menyatakan bahwa bumi ini bula dan matahari sebagai pusat tata surya. Pernyataan itu mendorong orang-orang Eropa untuk mengarungi lautan mencari daerah baru.
Keinginan untuk mengarungi samudra semakin besar, ketika muncul buku karangan Marco Polo yang berjudul "Imago Mundi" (Citra Dunia) dan"Il Milline" (Sejuta Keajaiban). Pada kedua buku ini dijelaskan tentang kekayaan yang melimpah di negeri timur (Cina dan Jepang). Kekayaan itu berupa emas, perak, dan sutra. Kisah dalam buku Marcopolo itu memberikan dorongan bagi para pelaut Eropa untuk mengarungi samudra.
2. Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan faktor paling kuat yang mendorong bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudra. Sebelum menemukan daerah pusat rempah-rempah, bangsa Eropa hanya mendapatkan hasil dagangan di pusat-pusat perdagangan Asia Barat. Barang dagangan yang diperoleh berasal dari India, Cina, Jepang, dan Asia Tenggara.
Keuntungan yang diperoleh oleh bangsa Eropa dengan membeli barang dagangan dari pelabuhan Asia Barat sangat sedikit. Apalagi para pedagang Asia Barat menjual barang dagangan dengan harga yang mahal. Karena itu orang-orang Eropa berkeinginan mencari barang dagangan dari pusatnya. Dengan begitu, mereka berharap memiliki keuntungan yang berlipat ganda.
3. Politik
Faktor berikutnya yang mendorong bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudra adalah peristiwa jatuhnya Konstantinopel ke tangan penguasa Turki Usmania tahun1453. Peristiwa ini menyebabkan orang-orang Eropa tidak mau berdagang di wilayah perdagangan Asia Barat. Akibatnya, perdagangan antara dunia timur dan barat terputus. Perkembangan beikutnya, bangsa Eropa mencari arah lain untuk menuju dunia timur. Keadaan ini menimbulkan gerakan pelayaran dan penjelajahan samudra secara besar-besaran.
4. Idealisme
Keberhasilan para pelaut Portugis dan Spanyol merintis jalan laut menuju Nusantara, mendorong gelombang pelayaran berikutnya. Tidak hanya ekspedisi dari Portugis dan Spanyol, meliainkan juga dari Inggris dan Belanda. Bangsa Eropa yang datang ke dunia timur pun pada dasarnya dilatarbelakangi oleh beberapa faktor idealisme, dan merupakan tujuan utama mereka. Tujuan mereka sama yaitu Gold, Glory, dan Gospel.
Gold secara harfiah berarti emas. Namun selain emas, orang-orang Eropa secara khusus mencari rempah-rempah, yang merupakan sumber kekayaan yang sangat penting dan laku dipasaran Eropa. Hasil pertanian ini mereka perlukan untuk obat-obatan dan penyedap serta pengawet makanan. Terlebih setelah terjadi Perang Salib, orang-orang Eropa lebih terdorong untuk mendapatkan sumber kekayaan itu langsung dari tempat asalnya.
Selain bermotifkan Gold, para penjelajah Eropa pun mengharapkan Glory, otau kejayaan. Hampir setiap orang ingin berjaya. Hanya anak kecil, orang tua yang pikun dan orang gila yang tidak memikirkan kejayaan. Bukan orang Eropa saja yang mengejar kejayaan di Nusantara. Bahkan kata "Nusantara" merupakan lambang kejayaan Majapahit yang berhasil menundukan kerajaan-kerajaan yang lemah. Setelahmendapatkan daerah rempah-rempah, bangsa-bangsa Eropa mempunyai idealisme penguasaan daerah tersebut guna mencapai kejayaan.
Idealisme terakhir dari para penjelajah Eropa adalah menyebarkan agama Nasrani (gospel). Salah seorang tokoh penyebar agama Nasrani di Indonesia bagian timur, seperti di Makassar, Ambon, Ternate, dan Morotai adalah Franciscus Xaverius atau Santo Francis Xavier (1506-1552). Xaverius bersama Santo Ingatius de Loyola mendirikan Ordo Yesuit.
Beberapa tokoh pelayaran samudra pada waktu itu antara lain:
Tokoh berkebangsaan portugis
· Alfonso de Albuquerque
· Dias Bartolomeu
· Vasco da Gama
Tokoh berkebangsaan Spanyol
· Christophorus Columbus
· Ferdinand Magelhaens
· Juan Sebastian Del Cano
Tokoh berkebangsaan Inggris
· Sir Francis Drake
· Thomas Cavendish
· Sir James Lancaster
· Sir Henry Middleton
Tokoh berkebangsaan Belanda
· Cornelis de Houtman
Berkembangnya Pendidikan Nasrani (Katholik dan Kristen) di Nusantara.
Katolik
Setelah portugis berhasil menguasai malaka, mereka mencoba mendatangi kepulauan Maluku yang kaya akan rempah-rempah. Tujuan utamanya adalah dengan mendatangi kepulauan Maluku, maka harga yang mereka peloeh akan jauh lebih murah daripada ketika mereka mendapatkan rempah-rempah tersebut dipasar-pasar Malaka. Selain misi perdagangan, dalam setiap pelayaran turut pula Missionaris atau pemuka agama Katholik. Para agamawan Katholik tersebut memiliki dua tugas utama yakni melayani kebutuhan ibadah (rohani) para pelaut didalam kapal selama masa perjalannya dan juga masyarakat katholik pada tempat-tempat yang disinggahi, serta tugas menyebarkan agama katholik bagi mereka (penduduk) diwilayah baru.
Pendidikan masa portugis ini tidak terlepas dari peranan para pendeta, bangsa portugis datang untuk berdagang, namun selain itu para pelaut portugis juga membawa misi penyebaran dan pendidikan agama katholik, hal ini dikarenakan pada masa itu terdapat doktrin bahwa Negara adalah pelayan gereja(Van den End, 1987:63).
Portugis datang diwilayah Maluku dan disambut dengan gembira oleh penguasa atau sultan ternate. Sultan ternate beranggapan dengan adanya portugis maka dia dapat memasarkan rempah-rempah dengan harga yang bagus dan portugispun dapat digunakan sultan ternate sebagai koalisi atau kawan dalam menguasai daerah sekitar Ternate sehingga tercapai monopoli rempah-rempah oleh ternate. Disisi lain sultan juga cukup terganggu dengan aktifitas para missionaris portugis yang berusaha, menyebarkan agama katholik diwilayahnya. Dua hal yang saling bertolak belakang inilah yang kemudian mewarnai penyebaran dan pendidikan agama katholik di Maluku. Oleh karena itu tidak selalu para missionaris dapat leluasa menyebarkan agama pada masyarakat Ternate, hal ini disesuakian kondisi yang ada saat itu, ketika kondisi damai, maka para missionaris/pater berkeliling kampong diluar benteng portugis dan mengumpulkan warga untuk diberikan pendidikan, pendidikan-pendikan itu tentu bersifat dasar dan lebih banyak porsi untuk pendidikan agama, pendidikan tersebut adalah membaca, menulis berhitung dan doa-doa harian dalam keyakinan katholik (Van den End, 1987:67). Sedangkan ketika masa damai berubah menjadi lebih panas, dimana terjadi ketegangan antar Portugis dan penguasa local, maka proses pendidikan dilakukan dalam gedung-gedung yang nantinya menjadi cikal bakal atau embrio dari sekolah agama katholik atau yang biasa dikenal dengan sebutan Seminari. Berbeda dengan bangsa-bangsa eropa lainya yang juga melakukan penjelajahan samudera seperti inggris, perancis, serta belanda, portugis dan spanyol sangat konsen atau menaruh perhatian lebih dalam proses pendidiakan agama Katholik. Itulah mengapa ketika tugas seorang imam agama Katholik telah selesai di Maluku, dan kemudian sang imam tersebut dipindahkan keluar wilayah Maluku, bahkan keluar wilayah Nusantara, maka portugis segera mengusahakan kedatangan imam baru, meskipun dalam praktiknya, kedatangan imam baru pengganti ini tidak secepat yang direncanakan oleh karena beberapa sebab, seperti gangguan di dalam perjalanan.
Salah satu tenaga penyebar agama dan pendidik Katholik yang cukup berpengaruh dalam mengantarkan pendidikan Katholik pada puncaknya di wilayah Maluku adalah Franciscus Xaverius, seseorang misiionaris berlatar keluarga bangsawan Spanyol. Ia banyak melakukan terobosan dalam system pengajaran agama pada masyarakat Maluku, yang dengan system baru ini, membuat masyarakat menjadi lebih mudah menerima ajaran agama. Dikarenakan sebelum kedatangan Franciscus Xaverius ke Ternate, orang-orang kristen portugis dan indo-portugis hidup dengan seenaknya dan sama sekali bodoh dalam hal agama, hal ini dapat kita maklumi mengingat sebelum kedatangan Franciscus Xaverius terdapat rentang waktu yang cukup panjang dengan kepergian imam terakhir dari wilayah tugasnya di Maluku. Oleh karena itu beberapa proses pendidikan yang digunakan oleh Xaverius diantaranya adalah setiap hari dua kali satu jam menyelenggarakan pelajaran agama katolik baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Rumusan-rumusan pokok iman Kristen seperti pengakuan iman rasuli, doa bapa kami, salam Maria, Dasa Perintah dan yang lainnya dikaji didepan orang yang telah berkumpul itu. Jika pendengarnya adalah penduduk local, Xaverius memakai terjemahan rumusan-rumusan tersebut dalam bahasa Melayu yang telah ia persiapkan di Malaka. Para pendengar mengulangi naskah-naskah tersebut sampai hafal. Bahkan dalam beberapa kasus teks-teks tersebut diberi irama sehingga dapat membentuk suatu lagu sehingga orang-orang dapat menghafalkan dengan menyayikannya dijalanan, lading bahkan rumah-rumah mereka (van den End, 1987:49). Pada malam hari Fransiscus mengelilingi kota sambil memegang lonceng kecil dan ia pergi dari rumah kerumah untuk mengajak orang mendoakan keluarganya. Di Ternate[1] ia menyusun pula semacam katekismus dalam bentuk suatu syair yang menjelakan tentang pengakuan iman Rasuli. Bahasa yang digunakan ialah bahasa Portugis tetapi adapula salinan yang menggunakan bahasa Melayu sederhana sehingga mudah dipahami oleh orang-orang Maluku. Xaverius tidak hanya berhubungan baik dengan masyarakat Katolik Maluku tetapi juga bersahabat dengan pemimpin terkemuka diwilayah itu yakni Sultah Hairun, penguasa kesultanan Ternate. Sehingga dapat kita mengerti bahwa mengapa pada masa itu ( ketika Xaverius berada di Ternate) pihak kesultanan tidak mempersulit perjalanan Missi. Cara-cara yang disebutkan diatas juga dilakukan diwilayah-wilayah lain dikepulauan Maluku seperti diwilayah Ambon, Tidore, bacan dan Jailolo.
Sepeninggal Fransiscus Xaverius dari Maluku untuk menuju Jepang guna menjadi pengabar Injil disana tidak ada Imam pengganti yang memiliki metode seperti yang Xaverius gunakan baik dalam mendidik umat ataupun berhubungan dengan sultan Ternate. Hal ini mengakibatkan proses penyebaran dan pendidikan agama Katolik kembali memasuki masa surut. Hal demikian tadi diperparah dengan ketegangan Portugis dengan pihak Ternate yang mengakibatkan Portugis terusir dari wilayah tersebut dan beralih menuju Tidore (van den End, 1987: 79).
Namun pada suatu waktu terjadi persekutuan antara seluruh kesultanan diwilayah Maluku unytuk mengusir keluar Portugis dari wilayah mereka. Hal ini diperparah dengan kedatangan bangsa Belanda yang Protestan, maka Portugis berpindah menuju pulau Timor sedangakan para pemuka agama Katolik ada yang turut serta menuju Timor bersama armada Portugis tapi ada pula yang bergabung dengan Spanyol menuju Filipina. Dengan kepergian Portugis dari wilayah Maluku maka berakhir pula penetrasi dan perkembangan pendidikan Katolik di wilayah Maluku.
Kristen
Dengan berakhirnya kekuasaan Portugis, maka timbullah kekuasaan baru, yakni kekuasaan Belanda. Bangsa Belanda inilah yang mengusir orang-orang portugis dari beberapa wilayah yang sebelumnya dikuasai dan di-katholikan oleh orang-orang portugis (Djumhur, 1990:115). Orang Belanda yang telah bersatu dengan perusahaan dagang VOC menganggap bahwa perlu menggantikan agama Katholik yang telah disebarkan oleh bangsa Portugis di Nusantara dengan agama yang dianut oleh bangsa Belanda yaitu agama Kristen. Dengan adanya pemindahan agama dari Katolik ke Kristen bangsa Belanda atau VOC mendirikan sekolah-sekolah yang berbasis keagamaan, terutama didaerah yang dulu sudah di-Katholikan oleh bangsa portugis dan Spanyol semisal di daerah Ambon, Ternate dan sebagainya. Dapat diketahui bahwa pendirian sekolah-sekolah tersebut memang untuk melaksanakan pemeliharaan dan penyebaran agama Protestan. Jelas sudah ini memang seperti sistem-sistem pendidikan yang sudah berkembang sebelumnya di Nusantara yang hampir kesemuanya itu berbasis kepada agama, semisal agama Islam dengan Pondok Pesantrennya dan juga Agama Katolik dengan sekolah-sekolah yang kebanyakan berlandaskan agama Katolik (seminari) dan itulah terjadi pada jaman Belanda atau VOC ini menguasai Nusantara, merekapun juga melakukan pemeliharaan dan penyebaran agama yang dianutnya yakni agama Kristen Protestan. Disini banyak juga hal-hal yang sekiranya tidak baik yang dilakukan oleh Belanda yakni dengan cara pengusiarn paderi-paderi (pemuka agama) katholik, penutupan sekolah-sekolah Katolik dan penutupan Gereja-Gereja Katolik di berbagai daerah di Nusantara.
Mengenai pengajarnya, memang pemerintah VOC mulanya hanya mengambil orang-orang belanda yang tugas awalnya yakni penghibur orang-orang sakit, yang nantinya memberikan doa-doa kepada umat dan doa-doa tersebut nantinya dihafalkan oleh masyarakat yang menganut agama Kristen. Dan selanjutnya dengan berkembangnya waktu datanglah pendeta-pendeta dari belanda yang nantinya juga memberikan ilmu kepada masyarakat di Nusantara.
Usaha Penguasaan Maluku Selatan/ Ambon oleh VOC tak luput juga dengan memberikan sebuah pelajaran-pelajaran kepada masyarakat Ambon. Sekolah VOC yang pertama kali didirikan di Ambon ini diperkirakan pada tahun 1607 dengan memberikan pelajaran-pelajaran yang berupa pelajaran membaca, menulis dan sembahyang atau beribadah yang pastinya sesuai dengan peribadatan umat Kristen. Mengenai pengajarnya sendiri di wilayah Ambon ini diangkat seorang Belanda yang mengajari berbagai hal tak terkecuali mengajari agama Protestan dan nantinya pengajar ini nantinya mendapatkan upah sebesar f 18 tiap bulannya (Djumhur, 1990:116).
Selain mengambil guru-guru dari dari orang Belanda sendiri, pemerintah VOC juga menerapkan kebijakan dengan mengirimkan anak dari kepala-kepala di Ambon untuk dikirim ke negeri Belanda, untuk mempelajari dan mendalami pendidikan guru. Sekembalinya dari menuntut ilmu di negeri Belanda, orang-orang ini kembali lagi ke Nusantara untuk untuk dijadikan guru di daerahnya (Soesanto Wasty, 1983:36). Pada awalnya memang pengajaran yang dilakukan banyak mengalami kesulitan ini dikarenakan banyak masyarakat sekitar yang tidak mengerti masalah bahasa Belanda, dan akhirnya untuk memudahkan masyarakat para pengajar menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa di sekolah maupun digereja, karena dulu memang bahasa Melayu inilah yang kebanyakan digunakan oleh masyarakat Nusantara kebanyakan. Baru pada kelas-kelas yang lebih tinggi pengajaran disekolah-sekolah VOC ini menggunakan bahasa Belanda (Wasty Soemanto, 1983:36)
Namun dalam pembelajaran yang dilakukan oleh VOC ini sepertinya tidak ada sebuah kurikulum karena pendirian sekolah-sekolah ini mempunyai tujuan keagamaan dan tidak terlalu mementingkan tujuan intelektualitas masyarakat. Dan juga menganai jangka dari pembelajaran itupun tidak ditentukan karena model yang diterapkan oleh pemerintah VOC ini yakni apabila ada murid yang sekiranya sudah mengerti, murid tersebut sudah dikeluarkan dari sekolah. Seperti tujuannya yakni dengan maksud penyebaran agama, jadi pengawaspun yang mengawasi kegiatan pembelajaran tersebut berasal pendeta-pendeta dan guru-gurunya kebanyakan juga besaral dari pejabat-pejabat di gereja.
Pada tahun 1627 di Ambon sudah ada 16 Sekolahan dan dipulau-pulau sekitar Ambon ada sekitar 18 sekolahan dengan jumlah murid keseluruhan dari murid sebanyak 1300 orang. Namun sayangnya sekolah-sekolah yang berada di luar wilayah Ambon kurang mendapatkan pengawasan dari pihak pendeta sehingga sekolah-sekolah diluar tersebut semisal Ternate, Bacan, Makyan, Minahasa dan pulau-pulau Sangir dan Talaud bisa dikatakan tidak semaju yang diwilayah Ambon. Dan perlu diketahui juga daerah-daeah diatas adalah daerah yang dulunya sudah mendapatkan pengaruh Nasrani dari Spanyol dan Portugis, sehingga mendapatkan sedikit perhatian dari VOC tetapi perhatian tersebut tidak terlalu basar sehingga bias dikatan bahwa daerah-daerah itu adalah daerah yang tidak begitu special bagi VOC, dan lebih parah lagi bahwa daerah-daerah yang belum terkena sentuhan dari Spanyol atau Portugis malahan dibiarkan begitu saja oleh VOC.
Dengan dipilihnya Batavia sebagai pusat dari kekuasaan VOC maka pihak Belanda pun juga ingin mengembangkan agama di Batavia dengan cara mendirikan sekolah-sekolah yang berbasis agama di Batavia, namun usaha-usaha untuk menyebarkan agama Kristen di Batavia ini mengalami banyak sekali kendala dan bisa dibilang penyebaran agama Kristen itu gagal di Batavia. Hal ini disebakan karena rakyat jawa tidak terkena pengaruh Portugis, maka dari itu agama Katolik tidak masuk di wilayah Jawa (Djumhur, 1990: 117). Karena cara yang dilakukan oleh Belanda memang hanya pengganti agama rakyat yang Katolik karena mendapatkan pengaruh dari Portugis, maka dari itu bias dikatakan tidak ada alas an bagi Belanda untuk bias mempengaruhi masyarakat Jawa khususnya dalam hal Agama. Namun dengan banyakanya warga Belanda yang tinggal di Batavia menjadikan pemerintah VOC akhirnya mendirikan sekolah-sekolah yang kebanyakan diperuntunkan kepada warga Belanda yang tinggal di Batavia dan juga sebagaian dari Pribumi yang memilih untuk memluk agama Kristen.
Sekolah pertama yang didirikan VOC di Batavia sekitar tahun 1617, Lima tahun kemudian sekolah itu mempunyai murid: 92 laki-laki dan 45 perempuan. Yang menjadi guru-guru dari sekolah ini yakni orang-orang Belanda yang tujuan dari pendirian sekolah tersebut yakni untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang cakap, yang kelak di[perkerjakan kepada pemerintahan, administrasi dan gereja. Sampai tahun 1786 dipergunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dan selanjutnya menggunakan bahasa Melayu, agar masyarakat bisa mengerti akan ajaran yang diajarkan. Perlu diketahui juga bahwa selain sekolah-sekolah umum pemerintah VOC juga membuka sekolah khusus yakni untuk mencari seorang lelaki yang nantinya dididik menjadi seorang pendeta dari berbagai ras atau kalangan di Batavia yang dibuka pada tahun 1745. Bentuk sekolah ini dimodel seperti model sekolah asrama yang dalam kehidupan sehari-hari siswa harus menggunakan bahasa Belanda selam hidup di asrama. Hal ini menjadi cambuk bagi Kaum Protestan pribumi untuk berusaha mempelajari bahasa Belanda agar lancer dan diterima sebagai siswa di sekolah khusus tersebut. Dalam pembelajarannya yang dilakukan dari seitar 71 siswa, hanya 1 siswa yang dinyatakan berhasil dan disekolahkan di Universitas Leiden dan nantinya akan mengajarkan agama Kristen di Nusantara(J. German Taylor, 2009:130).
Pada tahun 1779 jumlah murid pada sekolah-sekolah umum VOC adalah sebagai berikut:
Batavia : 639 orang
Pantai Utara pulau Jawa : 327 orang
Makassar : 50 orang.
Timor : 593 orang.
Sumatera Barat : 37 orang
Cirebon : 6 orang.
Banten : 5 orang
Maluku : 1057 orang
Ambon : 3966 orang (Djumhur, 1990:118)
Dari angka-angka diatas dapatlah sudah dilihat bahwa pengaruh dari agama Kristen kebanyakan hanya tindak lanjut dari pengaruh bangsa Portugis dengan Katoliknya, karena memang bangsa Belanda kebanyakan merubah agama Katolik yang disebarkan oleh Portugis ke agama Kristen Protestan yang dianut oleh kebanyakan masyarakat belanda pada saat itu.
Dibatasinya Perkembangan Pendidikan Islam.
Setelah kedatangan bangsa barat (portugis), kemudian disusul bangsa Inggris pada tahun 1811-1816 ke Nusantara dan Belanda yang lambat laun menjajah seluruh wilayah kepulauan Nusantara, pendidikan di Nusantara sangat kurang dan sama sekali tidak diperhatikan oleh penjajah. Bahkan mereka sebaliknya ialah menghambat dan menghalang – halangi perkembangan tersiarnya agama Islam dan akibatnya pondok pesantren tidak bisa bergerak dan berkembang secara leluasa sebagaimana pendidikan dan pengajaran umum yang diasuh dan dibina oleh penjajah (Abdul Refik & Amir Muhammad, 1983:21).
Pendidikan dan pengajaran Islam pada waktu itu (Jawa) yang memegang peranannya adalah yang diberikan di langgar dan pesantren. Langgar sebagai lembaga pendidikan itu mempunyai arti penting bagi perkembangan social anak, dalam arti anak lambat laun mengetahui serta menyadari bahwa dirinya menjadi anggota persekutuan hidup yang besar yang mempunyai tanggung jawab mengembangkan ajaran – ajaran Islam. Guru di langgar itu umumnya adalah modin. Sedangkan pesantren merupakan lembaga pendidikan yang lebih tinggi daripada pendidikan langgar. Pesantren –pesantren itu itu tidak sama dalam menampung siswanyademikian juga lamanya belajar tidak sama bagi setiap siswanya. Siswa dalam pesantren tentu usianya lebih tua daripada siswa yang belajar di lembaga langgar. Siswa yang di pesantren disebut santri, yang umumnya telah mendapat pengetahuan dasar disaat berada di lembaga langgar. Dan guru yang mengajar di pesantren disebut ajengan atau kiai.
Pada tahun 1810 gubernur jenderal Daendels mengeluarkan dekrit yang memerintahkan agar kiai yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain harus membawa paspor. Hal ini menunjukkan bagaimana pihak penjajah sangat membatasi berkembangnya pendidikan Islam. Peraturan dan perundang undangan mengenai pembatasan terhadap perkembangan pendidikan Islam baru muncul pada tahun 1882 yaitu pemerintah Belanda mengeluarkan ordonasi pristerraden, yang isinya adalah mengawasi pengajaran agama di pondok pesantren. Selanjutnya pada tahun 1905 mengelurkan ordonasi bahwa orang yang akan memberikan pengajaran agama harus minta izin lebih dahulu. Dilanjutkan pada tahun 1925 keluarlah ordonasi guru bahwa tidak semua orang boleh memberikan pelajaran mengaji dan pada tahun 1951 Belanda mengeluarkan peraturan yang isinya melarang pertemuan – pertemuan baik terbuka maupun pertemuan rahasia untuk mengerjakan ibadah – ibadah agama Islam yang dianggap salah oleh Belanda. Peraturan tersebut merupakan rintangan yang sangat berat terhadap perkembangan pendidikan dan pengajaran yang diusahakan dan dilaksanakan oleh para penganut agama Islam. Sebaliknya perkembangan ala barat berkembang dengan pesat dengan tujuan agar agama Kristen dapat tumbuh dan berkembang di Indonesia, sehingga sekolah – sekolah yang diasuh oleh penjajah (Belanda) diberi bantuan dalam berbagai gerak dan kegiatannya.
DAFTAR RUJUKAN
Djumhur I, Danasuparta. 1990. Sejarah Pendidikan. Bandung : CV Ilmu
End, Th Van Den. 1987. Ragi Carita, Sejarah Gereja di Indonesia Jilid 1 ( 1500-1860). Jakarta : BPK Gunung Mulia
Refik Ambul, Amin Muhammad. 1883. Sejarah Pendidikan Indonesia. Surabaya : Express
Soesanto Wasti, Soeyarno FX. 1983. Landasan Historis Pendidikan Indonesia. Surabaya : Usaha Nasional.
Taylor, Jean German. 2009. Kehidupan Sosial di Batavia. Jakarta : Masup Jakarta
www.wikipedia.com diakses tanggal 12 September 2011

0 komentar to BERKEMBANGNYA PENDIDIKAN BERCORAK NASRANI DAN DIBATASINYA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI NUSANTARA