Buku : PASAR DI JAWA Masa Mataram Kuna Abad VIII-XI Masehi

Posted by Unknown On Minggu, 20 Mei 2012 0 komentar


            Kajian dalam buku ini kebanyakan melalui telaah dari berbagai prasasti-prasasti yang berhubungan dengan Kerajaan Mataram Kuna, disini akan dijelaskan masalah sistem ekonomi pada masa Mataram Kuno. Dalam pemasukan ekonomi kerajaan ini menggunakan sistem pajak, kerja bakti, pajak perdaganagan dan kesenian dan denda atas tindak pidana. Pajak ditarik dari penduduk desa-desa oleh pejabat yang membawahi desa-desa tersebut, pajak ini diserahkan kepada kerajaan setiap habis panen. Untuk pajak perdaganagan ini biasanya ditarik pada daerah-daerah basis perdagangan, contohnya saja di daerah sekitar aliran sungai Brantas dan Bengawan Solo. Komoditi yang diperdagangkan adalah rata-rata yaitu hasil bumi, misalnya beras/padi, buah-buahan dan lain sebagainya. Daerah-daerah ini yang nantinya menjadi pasar yang besar karena terletak di aliran sungai besar yang penting pada masa itu, timbulnya pasar ini sendiri didasari oleh adanya kebutuhan akan barang-barang dan kebutuhan untuk penyaluran hasil produksi. Dengan ini dapat dibuktikan bahwa pada masa Mataram Kuno sistem ekonominya sudah bisa dibilang maju dan juga disini masyarakatnya sudah mengenal akan pembagian kerja dan juga muncul spesialisasi dalam bidang tertentu. Dari ini dapat dijelaskan pula komponen-komponen dalam sisitem pasar masa Mataram Kuna antara lain rotasi, produksi, distribusi, transportasi, dan transaksi. Untuk rotasi pasarnya masyarakat sudah mengenal akan mancapat dan mancalima, disini mancapat yaitu satu desa induk dikelilingi oleh empat desa yang terletak di empat penjuru mata angin dan untuk mancalima  adalah satu desa induk dikelilingi oleh delapan penjuru mata angin. Untuk lokasi dari pasar ini biasanya terletak di daerah aliran sungai-sungai besar, studi kasusnya disini yaitu sungai Bengawan Solo dan Brantas yang sesuai keterangan dari prasasti Turyyan dan Muncan. Ini dilakukan karena dari sungai-sungai ini yang sangat strategis bagi perdagangan antara pesisir dan pedalaman. Pasar didaerah ini biasanya berupa lapangan ataupun bangunan-bangunan semi permanen dan bangunan semi permanen ini biasanya disebut dengan pasar kerajaan sedangkan untuk pasar yang berupa lapangan merupakan pasar desa. Dalam kegiatan jual beli pasar tersebut komoditi yang diperdagangkan adalah hasil bumi, ternak dan perikanan dan juga hasil industri kecil rumah tangga. Kebanyakan para pedagang ini tidak datang dari desa itu sendiri melainkan dari daerah lain, otomatis dengan ini akan menciptakan suatu jalur baik melalui darat maupun sungai. Untuk para pedagang yang melalui sungai biasanya menggunakan perahu-perahu sedangkan yang melalui darat biasanya dipikul ataupun menggunakan gerobak yang ditarik sapi ataupun kuda. Dengan ini dapatlah dijelaskan bahwa sudah ada jalan ataupun jembatan yang melancarkan sebuah perdagangan pada masa itu. Dalam perdagangan masyarakat Mataram Kuna sudah mengenal sistem barter dan juga mengenal mata uang yang biasanya disebut pisis yang digunakan sebagai alat tukar. Disini pasar selain digunakan sebagai tempat yang identik dengan ekonomi, pasar juga digunakan sebagai tempat untuk interaksi Sosial yang dilakukan antara penjual dengan pembeli dan juga masyarakat umum lainnya dan juga sebagai tempat komunikasi dan Informasi bagi masyarakat serta digunakan sebagai tempat hiburan yang menyajikan hiburan-hiburan bagi masyarakat yang berupa pertunjukan-pertunjukan yang ada dalam pasar tersebut.

 
            Dari itu semua dapatlah dilihat bahwa pada Masa Mataram Kuno masyarakat sudah mengenal sistem ekonomi yang sudah maju dan juga masyarakat disini sudah mengerti akan pembedaan dalam jenis-jenis pekerjaan sesuai dengan jenis kelamin mereka. Daerah-daerah yang dikaji ini adalah daerah-daerah yang namanya sesuai dengan nama sebuah prasasti yang dikeluarkan pada zaman itu, prasasti tersebut adalah prasasti Turyyan yang mengkaji masalah pasar yang ada di daerah Turen kabupaten Malang serta prasasti Muncen yang mengkaji pasar di daerah Temanggung. Dalam kajian tersebut dijelaskan masalah-masalah atau komponen yang berhubungan erat dengan sebuah pasar, semisal masalah letak, komoditas dan sebagainya. dalam kegiatan perdagangan pada masa ini tidak memungkinkan adanya tengkulak-tengkulak yang menjual barang-barang dagangan baik di daerah pedalaman atau pesisir. Sebagai contoh saja dalam sebuah daerah sima yang ada didaerah pedalaman yang diadakan setiap tahun harus melakukan upacara dan dalam upacara tersebut selalu menggunakan ikan asin yang notabennya dari daerah pesisir maka pasti ada seorang yang dikatakan perantara atau biasanya disebut dengan saudagar-saudagar kaya. Untuk jalurnya sendiri kebanyakan melalui jalur sungai dengan menggunakan perahu dan juga ada juga yang melalui jalur darat yang menggunakan pikulan atau gerobak, jikalau menggunakan jalur darat pastinya akan dipikirkan juga para perampok-perampok yang berkeliaran di sepanjang jalan, maka dari itu para saudagar ini menurut saya sesuai dengan buku-buku tentang kerajaan di Indonesia pastinya menyewa para pengawal-pengawal baik pengawal kerajaan atau masyarakat sekitar untuk melindungi barang dagangannya dari para perampok. Dengan amannya sebuah jalur pastinya akan meningkatkan kegiatan perdagangan disebuah pasar tersebut. Dan perlu diketahui juga bahwa sistem pasaran sampai saat ini pastinya masih ada, terbukti dengan masih adanya nama-nama pasar yang mebbunakan nama-nama pasaran semisal legi, pahing, kliwon dan sebagainya dan juga bentuk dari pasar pada masa Mataram Kuna ini tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar tradisional yang ada di Jawa saat ini.

0 komentar to Buku : PASAR DI JAWA Masa Mataram Kuna Abad VIII-XI Masehi

Posting Komentar

Copyright 2012 [Syaiful Aris]. Diberdayakan oleh Blogger.